Rabu, 05 Februari 2014

VALIDASI REAGENSIA BDRS/UDDRS STANDAR UTDP PMI




 
PENDAHULUAN
Validasi merupakan kegiatan untuk memastikan reagensia yang digunakan dalam kondisi baik dan bereaksi secara normal sesuai dengan yang diinginkan. Kegiatan ini dilakukan setiap menggunakan kit reagensia yang baru dibuka dan juga suspensi sel yang baru dibuat dan akan digunakan untuk reaksi silang.
Kegiatan ini seharusnya dilakukan oleh seorang analis kesehatan yang telah senior dan bekerja di BDRS/UDDRS, namun tidak selalu. Hal ini merupakan kegiatan rutin dalam BDRS untuk menjaga kualitas pemeriksaan yang akan dilakukan. Dalam melakukan validasi harus menggunakan kartu validasi yang di checklist untuk tiap tahapan kerja.

Anti – A
1.    Disiapkan tabung sebanyak 3 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, II, dan III
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 1 tetes test sel A 5 %
- tabung II : 1 tetes test sel B 5 %
- tabung III : 1 tetes test sel O 5 %
3.    Diteteskan masing-masing 2 tetes anti-A pada tabung I, II dan III
4.    Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
5.    Di putar 3000 rpm selama 15 detik
6.    Di baca hasil reaksi.

Pembacaan Hasil :
Dibaca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Aglutinasi (Positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung III tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)

Anti – B
1.    Siapkan tabung sebanyak 3 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, II, dan III.
2.    Isi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 1 tetes test sel A 5 %
- tabung II : 1 tetes test sel B 5 %
- tabung III : 1 tetes test sel O 5 %
3.    Diteteskan masing-masing 2 tetes anti-B pada tabung I, II dan III
4.    Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
5.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik.
6.    Di baca hasil reaksi.

Pembacaan Hasil :
Dibaca hasil reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung II terjadi Aglutinasi (Positif)
- Pada tabung III tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)

Anti – D (Rhesus)
1.    Disiapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, dan tabung II
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 1 tetes test sel O 5 % Rhesus Positif
- tabung II : 1 tetes test sel O 5 % Rhesus Negatif
3.    Diteteskan masing-masing 2 tetes anti-D pada tabung I dan II
4.    Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
5.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik
6.    Di baca hasil reaksi.
Pembacaan Hasil
Dibaca hasil reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Aglutinasi (Positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)

Test sel A standar
1.    Disiapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, dan tabung II.
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 2 tetes Anti-A
- tabung II : 2 tetes Anti-B
3.    Diteteskan pada masing-masing 1 tetes test sel A Standar 5 % pada tabung I dan II.
4.    Dikocok-kocok semua tabung hingga tercampur
5.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik
6.    Di Baca hasil reaksi

Pembacaan Hasil :
Dibaca hasil reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Aglutinasi (Positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)

Test sel B standar
1.    Disiapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, dan tabung II
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 2 tetes Anti-A
- tabung II : 2 tetes Anti-B
3.    Diteteskan masing-masing 1 tetes test sel B Standar 5 % pada tabung I dan II
4.    Dikocok-kocok semua tabung hingga tercampur
5.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik
6.    Dibaca hasil reaksi

Pembacaan Hasil :
Dibaca hasil reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung II terjadi Aglutinasi (Positif)

Test sel O Standar
1.    Disiapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, dan tabung II
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 2 tetes Anti-A
- tabung II : 2 tetes Anti-B
3.    Diteteskan masing-masing 1 tetes test sel O Standar 5 % pada tabung I dan II
4.    Dikocok-kocok semua tabung hingga tercampur.
5.    Diputar 3000 rpm selama 15 menit
6.    Dibaca hasil reaksi.


Pembacaan Hasil :
Dibaca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung II tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)

Coomb’s Serum (AHG)
1.    Disiapkan tabung sebanyak 4 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, II, III, dan IV
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 1 tetes test CCC
- tabung II : 1 tetes test sel A 5 %
- tabung III : 1 tetes test sel B 5 %
- tabung IV : 1 tetes test sel O 5 %
3.    Dicuci keempat tabung dengan saline sebanyak 3 x
4.    Diteteskan masing-masing 2 tetes AHG pada tabung I, II, III, dan IV
5.    Dikocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik
7.    Dibaca hasil reaksi

Pembacaan Hasil :
Dibaca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Aglutinasi (Positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung III tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung IV tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)

Bovine Albumin 22 %
1.    Disiapkan tabung sebanyak 3 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, II, dan III
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 1 tetes test sel A 5 %
- tabung II : 1 tetes test sel B 5 %
- tabung III : 1 tetes test sel O 5 %
3.    Diteteskan masing-masing 2 tetes Bovine Albumin 22 % pada tabung I, II dan III
4.    Dikocok-kocok semua tabung hingga tercampur
5.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik
6.    Dibaca reaksi, bila ketiga tabung negatif, lanjutkan Diinkubasi 37 ° C selama 15 detik
7.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik
8.    Dibaca hasil reaksi.

Pembacaan hasil :
Dibaca hasil reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung II tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)
- Pada tabung III tidak terjadi Aglutinasi (Negatif)

Coomb’s Control Cells (CCC)
1.    Disiapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak dan diberi label tabung I, dan tabung II
2.    Diisi masing-masing tabung dengan :
- tabung I : 2 tetes Coomb’s Serum (AHG)
- tabung II : 2 tetes saline
3.    Diteteskan masing-masing 1 tetes CCC pada tabung I dan II
4.    Dikocok-kocok semua tabung hingga tercampur
5.    Diputar 3000 rpm selama 15 detik dan dibaca hasil reaksi

Pembacaan hasil :
Dibaca hasil reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Agglutinasi (Positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (Negatif)

Catatan :
·         Lembar Kerja validasi reagensia terdapat pada lampiran.
·         Pemeriksaan validasi harus menggunakan lembar validasi dan pengisian checklist setiap melakukan kegiatan tersebut.
·         Setiap spesimen darah yang digunakan harus berhati-hati dan dianggap infeksius, oleh sebab itu harus menggunakan alat pelindung diri.
·         Mengawetkan CCC dengan larutan Alserver dan CCC merupakan SDM yang telah coated dengan antibodi Rhesus IgG (Incomplete antibodi).








Pengambilan darah (Flebotomi Sederhana)



Pengertian
Pengambilan darah di laboratorium sering diasumsikan dengan nama flebotomi. Flebotomi (bahasa inggris : phlebotomy) berasal dari kata Yunani phleb dan tomia. Phleb berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/memotong (“cutting”). Dahulu dikenal istilah venasectie (Belanda), venesection atau venisection (Inggris). Jadi tidaklah tepat karena flebotomi sebenarnya diarahkan pengambilan darah dengan cara vena seksi (vena section) dan tidak sempit maknanya juga karena mencakup darah vena, kapiler dan darah arteri. Pengambilan darah umumnya yang diberikan kepada analis kesehatan hanya untuk memperoleh spesimen darah yang berasal dari vena dan kapiler, namun tidak masuk dalam kurikulum mata pelajaran khusus yang mandiri, tetapi melekat pada hematologi. Hal ini memberikan sinyal bahwa pengambilan darah hanya untuk membantu analis kesehatan untuk memperoleh darah, bukan menjadi suatu keahlian profesional. Umumnya praktek awal pengambilan darah menggunakan suatu alat peraga phantom (suatu alat peraga yang dikondisikan mirip dengan vena manusia) dan setiap orang dapat mencobanya. Pengambilan darah selain bertujuan mengambil darah secara aman, juga harus memperhatikan etika dalam berkomunikasi dengan pasien, oleh sebab itu perlunya penjelasan petugas kepada pasien agar pasien merasa tenang saat akan dilakukan pengambilan darah. Petugas pengambilan darah pun harus menggunakan alat pelindung diri, agar terlindung dari resiko penularan penyakit infeksi melalui darah.

Pengambilan Darah Kapiler
Cara ini digunakan bila jumlah darah yang digunakan atau dibutuhkan sedikit yaitu kurang dari 0,5 ml darah. Biasanya digunakan hanya untuk satu atau dua macam pemeriksaan saja. Misalnya hanya untuk hemoglobin, hapusan darah, eritrosit atau hitung leukosit. Secara umum tidak ada perbedaan yang bermakna antara darah kapiler dan darah vena sebagai spesimen pemeriksaan hematologi, asalkan proses pengambilannya mengikuti ketentuan yang baku dan tidak tercampur cairan jaringan atau alkohol 70% antiseptik.
Pengambilan darah kapiler diindikasikan pada pada keadaan tertentu, seperti : neonatus, bayi prematur, luka bakar luas, gemuk, pasien dengan kecenderungan trombosis dan pasien dengan gangguan darah perifer.

Alat dan Reagensia
1.    Blood lancet atau Autoclix dan sebaiknya disposable pemakaiannya (single use only) untuk menghindari penularan penyakit dan ketajaman mata lancet tetap baik dan tajam. Kedua jenis alat ini cukup untuk menembus kulit dengan kedalaman antara 1 – 3 mm.
2.    Kapas atau tissue kering
3.    Kapas Alkohol 70%

Lokalisasi
Tempat penusukan bisa dipilih dari ujung jari tangan, cuping telinga, dan untuk bayi biasanya dari ujung jari kaki atau sisi lateral tumit. Jangan menusuk pada bagian tangan bayi karena akan tertusuk tembus hingga ke tulang sehingga akan menyebabkan kerusakan jaringan tulang pada bayi. Dalamnya tusukkan maksimal 2,5 mm, karena bila melebihi pada bayi akan terkena tulang kalkaneus. Tempat yang dipilih tidak boleh terlihat adanya gangguan peredaran darah seperti cyanosis (kebiruan) atau pucat.

Teknik kerja
1.    Tempat yang akan ditusuk harus diberi dengan antiseptik Alkohol 70%, lalu dibiarkan kering. Dapat juga menggunakan antiseptik Tincture Iodium 1%
2.    Kulit setempat ditegangkan dengan memijat antara dua jari
3.    Penusukkan dilakukan dengan gerakkan yang cepat dan tepat sehingga terjadi luka yang dalamnya 3 mm. Pada jari tusuklah dengan arah tegak lurus pada garis – garis sidik jari kulit dan jangan sejajar. Bila memakai anak daun telinga (cuping telinga), tusuklah pinggirnya, bukan sisinya. Tusukkan harus cukup dalam supaya darah mengalir keluar dengan mudah.
4.    Tetesan darah pertama harus dihapus dengan kapas atau tissue bersih dan kering karena ini mungkin tercampur dengan alkohol.
5.    Tetesan darah yang keluar selanjutnya dapat digunakan untuk pemeriksaan hematologi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan
§  Sebelum dilakukan penusukan harus diperhatikan tempat-tempat yang tidak boleh diambil yaitu adanya peradangan, bekas luka dermatitis, oedema. Pada penderita yang pucat atau Cyanosis perlu dipijat-pijat dan digosok-gosok atau direndam dalam air hangat dulu supaya peredaran darah setempat mejadi lebih baik.
§  Penusukan pada ujung jari sebaiknya dilakukan pada sisi karena rasa nyeri berkurang.
§  Jangan menekan atau memeras jari atau cuping telinga untuk mendapatkan darah yang cukup, darah yang diperas semacam ini bercampur dengan cairan jaringan dan menyebabkan kesalahan dalam pemeriksaan.
§  Pada cuping telinga yang tidak boleh diambil yaitu daerah yang dekat dengan anting, pada pengambilan darah pada cuping telinga tidak terlalu nyeri,
§  Perlu diperhatikan kalau terjadi pendarahan pada cuping ini sukar untuk dihentikan oleh karena itu bagi penderita tersangka pendarahan tidak boleh dilakukan penusukan dicuping telinga.

Kesulitan
Bila kulit sekitar luka tak kering karena alkohol atau keringat, maka tetesan darah yang keluar tak dapat mengumpul pada tempat itu, melainkan segera menyebar disekitarnya, sehingga darah tidak dapat diperoleh secara sempurna.

Pengambilan darah vena
Darah vena diperoleh dengan jalan punksi vena. Jarum yang digunakan untuk menembus vena itu hendaknya cukup besar, sedangkan ujungnya harus runcing , tajam dan lurus. Dianjurkan untuk memakai jarum dan semprit yang disposable; semprit semacam itu biasanya dibuat dari semacam plastik. Baik semprit maupun jarum hendaknya dibuang setelah dipakai, janganlah disterilkan lagi guna pemakaian berulang.
Semprit yang banyak dipakai untuk pemeriksaan hematologi ialah yang mempunyai volume 2 dan 5 ml. Dianjurkan pula menggunakan “jarum – jarum steril“.  Teknik pengambilan menggunakan tabung hampa (vacutainer, venoject) yakni jarum yang diperlengkapi dengan tabung gelas hampa udara; pada waktu melakukan pungsi vena, darah terisap ke dalam tabung itu. Alat ini dapat digunakan 1 kali saja. Memakai jarum – tabung ini ada keuntungan tambahan karena darah yang diperoleh dalam keadaan tidak terkontaminasi.

Alat dan Reagensia :
1.    Jarum dan semprit atau tabung vakum dilengkapi jarum dan holder.
Jarum harus cukup besar, ujungnya runcing, tajam dan lurus dan hendaknya dibuang setelah dipakai (dispossible).
2.    Tourniquet
Bila tidak ada tourniquet dapat digunakan pembalut dari tensimeter atau selang karet yang lunak (lebar ± 5 cm).
3.    Botol penampung darah
Kering dan tertutup, untuk keperluan mikrobiologi harus steril. Volumenya tidak terlalu besar untuk jumlah darah yang akan ditampung dan diberi label.
4.    Kapas bersih beralkohol 70 % sebagai antiseptik
5.    Bantalan
Sebagai pengganjal atau penopang tangan (jika diperlukan)

Lokalisasi
Vena yang cukup besar dan letaknya superficial (permukaan) merupakan yang ideal sebagai vena yang akan ditusuk. Pada orang dewasa dapat menggunakan : vena diffosa cubiti, vena cephalica, vena cephalica mediana, vena basilica atau vena basilica mediana. Pada kondisi lain dapat juga menggunakan vena pada tangan, dimana biasanya perawat memasang infus, namun harus berhati – hati karena resiko tertusuk tulang sangat besar. Anak-anak dan bayi bila mengalami kesulitan dapat menggunakan vena Jugularis Externa (lebar), vena Femoralis (paha) dan atau vena Sinus sagitalis Superior (kepala), namun harus berpengalaman dan ahli dalam pengambilan darah.
Pada pengambilan darah vena (venipuncture), contoh darah umumnya diambil dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan siku). Vena ini terletak dekat dengan permukaan kulit, cukup besar, dan tidak ada pasokan saraf besar. Apabila tidak memungkinkan, vena chepalica atau vena basilica bisa menjadi pilihan berikutnya. Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan arteri brachialis dan syaraf median.
Jika vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa digunakan, maka pengambilan darah dapat dilakukan di vena di daerah pergelangan tangan. Lakukan pengambilan dengan dengan sangat hati-hati dan menggunakan jarum yang ukurannya lebih kecil.

Teknik Kerja
1.    Alat-alat yang diperlukan disiapkan di meja kerja.
2.    Keadaan pasien diperiksa, diiusahakan pasien tenang begitu pula petugas pengambil darah (phlebotomis).
3.    Ditentukan vena yang akan ditusuk, pada orang gemuk atau untuk vena yang tidak terlihat dibantu dengan palpasi (perabaan).
4.    Daerah vena yang akan ditusuk diperhatikan dengan seksama terhadap adanya peradangan, dermatitis atau bekas luka, karena mempengaruhi hasil pemeriksaan.
5.    Tempat penusukan beri antiseptik dengan Alkohol 70 % dan dibiarkan kering
6.    Tourniquet dipasang pada lengan atas (bagian proximal lengan) 6 – 7 cm dari lipatan tangan.
7.    Tegakkan kulit diatas vena dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak bergerak.
8.    Dengan lubang jarum menghadap keatas, kulit ditusuk dengan sudut 45o – 60o sampai ujung jarum masuk lumen vena yang ditandai dengan berkurangnya tekanan dan masuknya darah ke ujung plastik jarum.
9.    Holder ditarik perlahan-lahan sampai volume darah yang diinginkan apabila menggunakan syringe. Apabila menggunakan tabung vakum, tabung diambil dan ditusukkan pada ujung lain dari jarum tadi, maka darah akan masuk dengan sendirinya.
10.  Torniquet dilepas pada lengan.
11.  Kapas diletakkan diatas jarum dan ditekan sedikit dengan jari kiri, lalu jarum ditarik.
12.  Pasien diinstruksikan untuk menekan kapas selama 1 menit pada tempat tusukan. Setelah itu direkatkan kapas menggunakan plester.
13.  Jarum ditutup lalu dilepaskan dari sempritnya, darah dimasukkan kedalam botol penampung melalui dinding secara perlahan. Bila menggunakan antikoagulan, segera perlahan-lahan dicampur. Untuk tabung vakum segera dikocok perlahan untuk mencampurkan darah dengan zat aditif didalamnya.

Hal – hal yang perlu diperhatikan
1.    Pastikan petugas telah menggunakan alat pelindung diri (APD) : jas laboratorium, masker, sarung tangan karet dan penutup kepala.
2.    Pasien yang takut harus ditenangkan dengan memberi penjelasan mengenai apa yang akan dilakukan, maksud beserta tujuannya.
3.    Pada pasien anak, perlu di fiksasi tangannya dengan petugas lain agar tidak bergerak pada saat penusukan.
4.    Vena yang kecil terlihat sebagai garis-garis biru biasanya sukar digunakan
5.    Untuk vena yang tidak dapat ditentukan karena letaknya yang dalam, usaha coba-coba dilarang untuk dilakukan
6.    Pembendungan yang terlalu lama jangan dilakukan karena dapat mengakibatkan hemokonsentrasi setempat.
7.    Hematoma, yaitu keluarnya darah dibawah kulit dalam jaringan pada kulit disekitar tusukkan akan terlihat berwarna biru, biasanya akan terasa nyeri, perintahkan pasien untuk mengompresnya dengan air hangat beberapa menit atau beberapa hari sampai sakitnya hilang.


PERALATAN PENGAMBILAN DARAH
1. Kapas Alkohol 70%
Merupakan bahan dari wool atau kapas yang mudah menyerap dan dibasahi dengan antiseptic berupa etil alkohol. Tujuan penggunaan kapas alkohol adalah untuk menghilangkan kotoran yang dapat mengganggu pengamatan letak vena sekaligus mensterilkan area penusukan agar resiko infeksi bisa ditekan.

2. Tourniquet
Merupakan bahan mekanis yang fleksibel, biasanya terbuat dari karet sintetis yang bisa merenggang. Digunakan untuk pengebat atau pembendung pembuluh darah pada organ yang akan dilakukan penusukan plebotomy. Adapun tujuan pembendungan ini adalah untuk fiksasi, pengukuhan vena yang akan diambil. Dan juga untuk menambah tekanan vena yang akan diambil, sehingga akan mempermudah proses penyedotan darah kedalam spuit.

3. Wing Needle
Wing Needle adalah jarum yang pada bagian belakang terdapat selang dan pada sisi kanan dan kiri jarum terdapat sayap yang digunakan untuk mencegah jarum tergeser saat jarum ditusuk dan difiksasi pada kulit pasien. Jarum wing ini dapat digunakan pada pasien anak dan juga pasien bayi.

4. Plester dan Hipafix
Digunakan untuk fiksasi akhir penutupan luka bekas plebotomi, sehingga membantu proses penyembuhan luka dan mencegah adanya infeksi akibat perlukaan atau trauma akibat penusukan.

5. Lancet
Merupakan jarum kecil disposable yang digunakan untuk pengambilan darah kapiler dipermukaan kulit atau ujung jari pasien. Bisa berupa classic lancet yang terpisah dari pemantiknya. Atau bisa berupa automatic lancet yang langsung bisa dipergunakan tanpa pemantik lagi.

6. Objek Glass
Merupakan gelas preparat yang akan digunakan untuk pemaparan sediaan darah atau pemeriksaan lain yang akan diperiksa dengan mikroskop. Digunakan untuk sediaan langsung hapusan darah, sediaan malaria atau pembekuan darah cara slide. Selain itu digunakan untuk pemeriksaan golongan darah.

7. Deck Glass
Gelas penghapus yang digunakan untuk sediaan hapusan darah pada objek gelas. Digunakan juga untuk cover/penutup sediaan objek glass.

8. Spigmomanometer
Alat yang digunakan untuk pemeriksaan Bleeding Time dan Rumple leede test pada kelainan hemostasis. Fungsi lainnya untuk mengukur tensi pada pasien.

9. Kertas Saring
Kertas saring dipotong, digunakan untuk pemeriksaan Bleeding Time (BT) untuk menyerap darah yang keluar pada lengan pasien.

10. Tabung Kapiler
Merupakan tabung kecil dengan diameter 1mm sehingga memiliki daya kapilaritas atau menyerap cairan darah yang akan diambil. Sehingga cukup dengan menempelkan salah satu ujungnya, maka darah akan mengisi tabung sesuai kebutuhan. Tabung kapiler dengan antikoagulan bertanda strip merah, sedangkan tanpa koagulan dengan strip biru.

11. Kode Warna Jarum
Jarum yang digunakan untuk pengambilan darah bermacam - macam ukurannya. Untuk itu perlu diketahui dan dipilih jenis jarum yang akan digunakan serta disesuaikan dengan volume yang akan diambil dan pasien yang akan diambil darah. Semakin besar nomor jarum, maka semakin kecil diameter lubang jarum. Kode warna jarum dapat dilihat pada plastik holder jarum yang akan disambungkan dengan spuit/semprit/syringe atau tabung vakum.
Jarum no. 27 G dengan warna merah jambu berukuran paling kecil, diikuti jarum No. 25 G warna kuning, jarum no. 24 G berwarna ungu, jarum no. 23 G biru, jarum no. 22 berwarna hitam, jarum no. 21 berwarna hijau, jarum no.20 kuning krim, jarum no.18 putih dan lainnya.Untuk pemeriksaan hematologi biasanya digunakan jarum no. 21, 22 dan 23 pada orang dewasa dan anak, sedangkan pada bayi digunakan no.27 dan 25 G.

12. Ukuran Syringe (Spuit/Semprit)
Syringe yang tersedia dipasaran beragam ukuran mulai 1 ml, 3 ml, 5 ml, 10 ml, hingga 20 ml. Untuk pemeriksaan hematologi idealnya menggunakan syringe ukuran 1 ml, 3 ml dan 5 ml. Hal ini karena dalam pemeriksaan hematologi tidak terlalu banyak menggunakan darah untuk pemeriksaan di laboratorium. Syringe ukuran 3 ml sangat sering digunakan di laboratorium sehari-hari, hal ini selain mudah didapat juga menggunakan jarum no.23G sehingga cocok dengan hampir semua umur pasien. Namun pada kondisi dengan keperluan darah yang lebih banyak maka syringe dapat digunakan ukuran 5 ml dengan nomor jarum 22G.

13. Kode Warna Tabung vakum
Tabung vakum merupakan tabung yang telah hampa udara yang diproduksi oleh perusahaan, sehingga saat pengambilan darah maka akan tersedot sendiri dengan gaya vakum tabung ini. Tabung vakum rata-rata terbuat dari kaca antipecah atau plastik bening dengan berbagai ukuran volume yang berisi zat additif didalamnya. Tabung vakum dibedakan jenisnya berdasarkan warna tutup dan etiketnya, berikut kode warna untuk tiap tabung vakum :
1.    Tutup dan Etiket Merah (Red Top)
Tabung jenis ini telah berisi reagent Clot Activator yang akan mempercepat pembekuan darah. Umumnya digunakan untuk Kimia darah, Serologi dan Bank Darah. Waktu pembekuan ideal 60 menit (sesuai standart NCCLS/National Committee Clinical Laboratory System) tetapi bisa di sentrifuge dibawah 60 menit asalkan sampel sudah mengental. Sample harus segera di sentrifuge dalam waktu maksimal 2 jam (dari pengambilan sampel). Di sentrifuge 1300-2000 rpm selama 10 menit.
Penyimpanan sampel : 22°C (dapat digunakan sampai 8 jam), 4°C   (dapat digunakan 8-48 jam), -20°C (dapat digunakan diatas 48 jam). Ukuran tersedia 4 ml, 6 ml dan 10 ml.
2.    Tutup dan Etiket Ungu muda (Lavender)
Berisi antikoagulan K3EDTA, sehingga darah diperoleh tidak beku. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan Hematologi. Ukuran tersedia 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 6 ml dan 8 ml.
3.    Tutup dan Etiket Ungu (Violet)
Berisi antikoagulan K2EDTA, untuk mencegah pembekuan darah. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan Hematologi. Yang membedakan hanyalah isi dari antikoagulannya saja dibandingkan dengan K3EDTA lavender.
Dinding tabung bagian dalam dilapisi pengawet sehingga dapat memperpanjang waktu hidup dan metabolisme Sel darah Merah setelah proses pengambilan darah. Berisi antikoagulan K2EDTA (Ethylene Tetra Acetic Acid) yang berbentuk Spray dry. Setelah darah masuk penuh ke tabung ‘segera mungkin’  lakukan homogenisasi sebanyak 6x untuk menghindari penggumpalan thrombosit karena pada situasi thrombosit sangat bagus darah cepat sekali menggumpal. Agar mesin dapat membaca leukositenya disarankan sample darah yang masuk ketabung minimal 75% dari ml tabung yang dipakai. Ukuran tersedia 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 6 ml dan 8 ml.
4.    Tutup dan Etiket Biru (Blue)
Berisi Trisodium sitrat 3,2% sesuai standart NCCLS dengan rasio sample darah : citrate = 9 : 1 (rasio yang selalu konstan akurasinya). Didesign khusus untuk tes koagulasi dan agregasi thrombosit. Dilapisi oleh double cover, yaitu : Poly Propylene (bagian dalam) agar tidak ada penguapan aditive, terjaga kevakuman. Poly Ethyline (bagian luar) mampu mengurangi insiden aktivasi platelet. Tersedia ukuran 1,8 ml, 2,7 ml dan 4,5 ml (Full Draw).
5.    Tutup dan Etiket Hijau (Green)
Berisi Lithium Heparin dengan gel (PGS), baik digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion yang ada dalam darah. Direkomendasikan untuk pemeriksaan Kimia Darah, Kreatinin dan BUN, elektrolit dan enzim. Dihomogenisasi 6x dan di sentrifuge pada 1300 - 2000 rpm selama 10 menit dan kemudian plasma siap untuk dianalisa. Tersedia ukuran 1 ml, 2 ml, 3,5 ml, 5 ml dan 8 ml.
6.    Tutup dan Etiket Abu-abu (Grey)
Berisi Kalium Oxalate berfungsi sebagai antikoagulan dan NaF yang berfungsi sebagai pengawet sehingga dapat menstabilkan kadar gula darah selama 24 jam pada suhu ruangan dan selama 48 jam jika disimpan pada suhu 4°C. NaF menghambat enzim Phosphoenol Pyruvate dan kerja urease (mencegah Glycolysis). Ukuran tersedia 2 ml, dan 3 ml.
7.    Tutup dan Etiket Kuning (Yellow)
Disebut juga SST II/Serum Separator Tube. Berisi Silica sebagai Clot Activator dan Polymer Gel Innert sebagai pemisah serum sehingga diperoleh kualitas serum yang  bagus dan mengurangi resiko timbulnya fibrin yang bisa menyumbat instrument.
Waktu mendapatkan serum hanya separuh dari Clot Activator/Red Top maka lebih menghemat waktu dan biaya. SST II / Serum Separator Tube. Sebagai pilihan terbaik untuk pemeriksaan kimia darah cito. Serum yang diperoleh lebih banyak jika dibanding dengan Clot Activator/Red Top sehingga efisien dalam pengambilan darah.
Memungkinkan untuk penundaan analisa specimen (diambil malam hari dan diproses/dianalisa esok hari). Satu tabung berfungsi sebagai penyimpan sekaligus analisa tube sehingga mengurangi kesalahan identifikasi. Setelah specimen masuk tabung dihomogenisasi 6x kemudian diamkan 15-30 menit (mengurangi resiko fibrin).Dicentrifuge pada 4000 rpm selama 10 menit (swing head) atau 15 menit (fixed angle). Ukuran tersedia 3,5 ml, 5 ml dan 8,5 ml
8.    Tutup dan Etiket Hijau muda (Citrus)
Berisi Lithium Heparin sangat banyak digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion yang ada dalam darah. Direkomendasikan untuk pemeriksaan Kimia Darah, Kreatinin dan BUN, elektrolit dan enzim.
9.    Tutup dan Etiket Jingga (Orange)
Tabung tidak hampa/vakum, berisi Clot Activator yang berisi gel. Digunakan untuk laboratorium yang tidak memerlukan tabung vakum untuk mengumpulkan darah. Dapat digunakan pemeriksaan Kimia darah dan Serologi. Ukuran tabung 5 ml.
10.  Tutup dan Etiket Hitam (Black)
Berisi Trisodium sitrat 3,8% untuk pemeriksaan LED/ESR metode Westergren. Ukuran tabung dengan isi 2,4 ml volume cairan.

14. Urutan Pengambilan Darah denganTabung Vakum
Untuk mendapatkan spesimen darah yang baik, maka pengambilan darah dengan tabung vakum dengan urutan sebagai berikut :
1.    Pertama menggunakan tabung tutup biru berisi sitrat 3,2% untuk faal hemostasis.
2.    Kedua menggunakan tabung tutup kuning berisi SST II Gel clot activator untuk kimia darah rutin, serologi, bank darah, TDM.
3.    Ketiga menggunakan tabung tutup hijau berisi lithium heparin untuk kimia darah rutin, elektrolit, enzim, urea dan kreatinin.
4.    Keempat menggunakan tabung tutup ungu/lavender berisi EDTA untuk hematologi.
5.    Kelima menggunakan tabung tutup abu-abu berisi NaFKalium oxalat untuk pemeriksaan glukosa (terutama).