Rabu, 18 Januari 2012

Pengenceran Spesimen Serum Kimia Klinik

Dalam Kegiatan laboratorium adakalanya menemui kesulitan pada saat melakukan pengukuran, salah satunya yang paling terbanyak adalah tidak linearnya pengukuran karena kadar yang sangat tinggi suatu zat yang diukur sehingga reagensia yang digunakan tidak mampu/tidak setara dengan zat tersebut dalam kemampuan pengukurannya sehingga masih ada yang tidak ikut bereaksi.

Tidak jarang klinisi merasa bingung karena secara klinis pasien mengalami gangguan, namun hasil pengukuran normal atau lebih rendah. Hal ini berakibat tidak percayanya klinisi sebagai pengguna jasa laboratorium untuk meminta pemeriksaan di laboratorium A dan meminta seluruh pasiennya memeriksa di laboratorium B yang lebih terpercaya pemantapan mutu laboratoriumnya.

Setiap analis kesehatan yang akan bekerja dan bekerja, tidak semuanya menguasai ilmu ini, hal ini kurangnya pengetahuan tentang linearitas, alat yang tidak dirawat dengan baik, pemantapan mutu yang tidak baik dan bekerja kurang teliti serta tidak tanggap dengan warning yang diberikan oleh alat.

Pengukuran yang baik, apabila grafik pengukuran berbentuk lurus atau sedikit lengkung, kondisi ini pengukuran linear. Sedangkan pengukuran buruk bila berbentuk huruf L sehingga tampak patah. Kondisi inilah yang disebut tidak linear pengukuran.

Pengencer yang digunakan pada pemeriksaan ini bisa NaCl 0,9% atau aquabidest steril. Namun yang paling sering digunakan adalah NaCl 0,9%, apabila tidak ada dan dicurigai terjadi gangguan pemeriksaan sebaiknya menggunakan aquabidest, terutama apabila pemeriksaan elektrolit.

Contoh soal 1:

Kasus :

Misal kadar glukosa darah didapat 500 mg/dL pada pengukuran fotometer, Linearitas pengukuran kit glukosa merk tertentu pada brosur hanya 400 mg/dL. Nilai normal terendah pengukuran 60 mg/dL dan nilai normal tertinggi pengukuran 200 mg/dL. Saat pengukuran diberitahukan pada alat (flag) “DIL” atau tanda + atau linearity concentration incorrect, dilution sample atau tanda lain. Pada layar grafik pengukuran patah berbentu huruf L. Apa yang harus dilakukan Analis?

Jawab :

Keputusan :

Diencerkan serum sebanyak 2x dengan 1+1, berarti 1 bagian serum dengan 1 bagian pengencer NaCl 0,9% dan hasil pengukuran didapat dikalikan dengan 2.

Cara :

500 µL serum ditambah dengan 500µL NaCl 0,9%, campur dan diambil untuk pemeriksaan seperti biasa.

Hasil :

Pada layar fotometer didapatkan kadar glukosa 325 mg/dL. Jadi kadar glukosa pasien :

Glukosa = kadar glukosa x pengenceran

= 325 mg/dL x 2

= 650 mg/dL

Tidak Terukur :

Seandainya tidak dilakukan pengenceran, maka glukosa tidak terukur :

glukosa tidak terukur = kadar glukosa setelah pengenceran – kadar glukosa awal

= 650 mg/dL – 500 mg/dL

= 150 mg/dL


Contoh Soal 2 :

Data pengukuran enzim GOT/AST didapatkan kadar -15 U/L, terlihat ada flag pemeriksaan tidak linear dan grafik pengukuran selama 60 detik terlihat titik-titik pengukuran menurun patah seperti huruf L tidak rata. Linearitas pengukuran kit merk yang digunakan 600 U/L. tersedia serum sisa hanya 500 µL dan alat dapat mengukur bila 500µL serum tersedia. apa yang harus dilakukan Analis ?

Jawab :

Keputusan :

Serum diencerkan sebanyak 10x dengan perbandingan 1+9, 1 bagian serum dan 9 bagian pengencer dan hasil dikalikan dengan 10.

Cara :

100 µL serum ditambah dengan 900 µL pengencer, dicampur dan diambil sebanyak 500 µL serum dan dilakukan pengukuran.

Hasil :

Pengukuran didapatkan aktifitas enzim AST 250 U/L. jadi aktifitas sebenarnya enzim AST pasien :

AST = aktifitas AST x pengenceran

= 250 U/L x 10

= 2.500 U/L

Tidak terukur :

Seandainya tidak dilakukan pengenceran, maka AST tidak terukur :

AST tidak terukur = aktifitas AST setelah pengenceran – aktifitas AST awal

= 2.500 U/L – (-15 U/L)

= 2.515 U/L

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar