Kamis, 25 Februari 2010

Artefak dan Kontaminan Sedimen Urine

1. Gelembung Udara (Bubble Air)
Gelembung udara merupakan salah satu artefak, yang menyebabkan kesalahan dalam penilaian sedimen urine. Sebenarnya gelembung udara terjadi karena objek gelas yang kotor, sedimen urine mengandung partikel kasar dan proses meletakkan cover gelas yang secara horizontal langsung terhadap objek gelas sehingga mungkin akan terbentuk gelembung ini pada bagian tengah sediaan. Untuk itu Gunakan objek gelas yang baru dan bersih, memperhatikan kebersihan penampung urine dan meletakkan cover gelas dimulai dari salah satu ujung sediaan sedimen urine dengan membentuk sudut setidaknya 30O.

2. Tetes Lemak (Lipid Droplet)
Tetes lemak biasanya ditemukan sebagai kontaminasi karena proses pengumpulan urine menggunakan tempat bekas minyak, kaldu masakan, atau bekas bahan makanan yang mengandung lemak. Hal ini dapat dibedakan dengan lipid droplet yang berasal dari tubuh/ginjal, dimana lipid droplet dari ginjal hampir selalu disertai dengan oval fat bodies dan silinder lemak.

3. Kontaminasi Material Feses (Fecal Material)
Kontaminasi ini terlihat berupa serpihan sisa pencernaan. Kontaminasi dari material feses mungkin saja terjadi, hal ini karena saat pasien menampung urinenya tercemar oleh tangan yang kotor bekas feses atau memang proses mencuci kelamin pada wanita dengan gerakan dari belakang ke muka sehingga saat berkemih cemaran ikut masuk ke urine. Apabila cemaran ini berupa parasit maka perlu dilaporkan.

4. Serat Kain (Cotton Fiber)
Serat kadang ditemukan dalam sedimen urine. Hal merupakan kontaminan yang berasal dari pakaian, atau kain tidur dari pasien yang sedang dirawat. Perlu di lakukan penanganan dalam pengumpulan urine, sehingga kehadiran material ini lebih kecil ditemukan dalam urine.

5. Rambut (Hair Fiber)
Kadang ditemukan adanya rambut dalam sedimen urine. Adanya kontaminasi ini mungkin berasal dari bulu pubis atau memang rambut pasien yang terjatuh ke dalam botol urine saat dilakukan pengumpulan urine. Dalam keadaan normal kontaminan ini memang tidak perlu dilaporkan. Tetapi patut dicurgai bila ada jamur piedra sp. Pada rambut dan perlu dilaporkan.

6. Plankton (Animal Plankton)
Adanya plankton dalam urine merupakan suatu tanda bahwa terjadi pencemaran urine oleh air yang berasal dari sungai atau danau. Hal ini terjadi mungkin pada pasien yang menggunakan penampung urine yang telah dicuci menggunakan air sungai atau air danau.

7. Talk
Tepung atau bedak talk didapat dari penggunaan sarung tangan karet oleh staf rumah sakit, kehadiran kristal-kristal tepung atau bedak talk sering ditemukan. Kristal-kristal ini birefringent dengan suatu maltese melintasi pola interferens ketika yang dilihat di bawah filter mikroskopi polarisasi. Perlu diperhatikan adanya kristal ini secara hati-hati di bawah mikroskop medan cahaya dengan maksud untuk membedakannya dengan droplets lemak birefringent.

8. Benang Mukus/Benang Lendir (Mucus Thread)
Mukus (lendir/Ingus) sering ditemukan di dalam sedimen urine. Fungsi yang pasti mukus tidak diketahui. Sebagian orang berpikir bahwa sebagai unsur pokok terhadap perlindungan melawan infeksi bakteri. Hal ini bertujuan untuk melapisi fili-fili bakteri, sehingga mengurangi kolonisasi pada dinding saluran kemih. Mukus yang melapisi bakteri dibuang saat melakukan miksi (berkemih). Mukus dapat juga melindungi dinding saluran kemih bawah terhadap iritasi oleh bahan kimiawi.
Sel-sel yang membentuk mukus ditemukan tersebar di mana-mana pada saluran kemih mulai dari loop of Henle (ansa henle) hingga kandung kemih. Sebagai konsekuensi, mukus dimulai dari ginjal atau saluran kemih bawah. Mula-mula mukus dari ginjal diolah dari protein Tamm-Horsfall. Hal ini menjelaskan seringnya asosiasi terjadinya benang lendir dan silinder. Pada pasien-pasien yang lebih tua, mukus sering ditemukan dan mungkin berasal dari saluran kemih bawah.
Pada kebanyakan kasus, kehadiran benang mukus merupakan keadaan yang benigna. Karena faktor iritasi yang dapat merangsang sekresi mukus.

9. Starch
Granular starch (Biosorb) digunakan sebagai bedak pada pembedahan dan sarung tangan. Butir ini biasanya ditemui sebagai zat-pencemar tidak hanya di dalam sedimen urine, tetapi juga di dalam sediaan smear sitologi dengan tipe yang bervariasi. Ditemukan dalam ukuran berbeda, bulat hingga poligonal bentuknya, tidak berwarna, dan biasanya sirkuler atau bentuk Y "titik" di tengahnya.

10. Spermatozoa
Spermatozoa ditemukan dalam urine merupakan pencemaran karena aktivitas seksual. Pada pria sering ditemukan merupakan sisa, sedangkan pada wanita merupakan sisa-sisa spermatozoa yang dikeluarkan oleh pria melalui organ vitalnya, keadaan ditemukan dalam urine wanita merupakan suatu pencemaran dari vagina.
Beberapa laboratorium tidak melaporkan spermatozoa. Yang menjadi masalah dengan kebijakan itu adalah karena laboratorium jarang mengetahui dengan pasti kondisi yang sedang dihadapi tiap pasien berbeda yang melakukan pemeriksaan urine sehingga mengeluarkan keputusan tersebut. Umumnya kasus ditemukan spermatozoa karena aktivitas seksual manusia normal pada umumnya dan merupakan suatu rahasia pribadi. Tetapi pada beberapa kasus lain, yang bukan karena aktifitas seksual suami istri yang ditemukan dalam sedimen urine merupakan suatu yang cukup serius dan membingungkan. Melaporkan spermatozoa yang ditemukan di suatu spesimen anak perempuan muda (gadis) adalah satu keputusan yang mudah, tetapi dapat berakibat fatal bagi yang membaca, karena suatu kemustahilan atau mungkin merupakan kasus-kasus dari pelecehan seksual yang mungkin tidak selalu jelas dan nyata.
Untuk itu laboratorium perlu melaporkan semua kasus adanya spermatozoa dalam urine dan mempersilahkan kepada klinisi itu memutuskan apa yang akan dilakukan dengan hasil yang telah dilaporkan.

11. Mikrofilaria
Microfilariae dari Dirofilaria immitis bisa dilihat pada sedimen urine jika terjadi hematuria pada anjing microfilaremia. Temuan itu adalah tanpa makna, selain dari sebagai satu indikasi penyakit heartworm.

12. Hexacant Embryo
Fecal material, yang berasal dari usus kadang mencemari urine bahkan dengan clean voided spesimen. Sebagai contoh, adanya embrio hexacant ditemukan di dalam urine. Hal ini mungkin perlu dibedakan bahwa embrio ini hanya dapat ditemukan pada kucing atau anjing, tidak pada manusia, terlihat struktur internal dari embrio-embrio hexacanth dari Dipylidium caninum.

13. Telur Trichuris sp. (Egg of Trichuris sp.)
Adanya telur Trichuris sp. didalam urine merupakan indikasi adanya pencemaran oleh faeces. Biasanya banyak ditemukan pada wanita, karena kebiasaan membersihkan alat genitalianya dengan arah dari belakang ke muka sehingga mungkin sebagian material faeces akan melekat pada muara vagina, sehingga saat melakukan miksi akan terbawa arus urine yang keluar. Pada anak laki-laki jarang terjadi kontaminasi telur trichuris karena alat genitalisnya berjauhan dengan anus. Kondisi ini patut dilaporkan dalam sedimen urine sebagai kontaminan yang ditemukan, karena bernilai klinis dalam pengobatan pasien tersebut.

14. Telur Enterobius sp. (Egg of Enterobius sp.)
Didalam sedimen urine mungkin ditemukan adanya telur Enterobius sp. akibat kontaminasi dari anus. Hal ini terjadi karena pada malam hari cacing betina Enterobius sp. melakukan migrasi dari usus besar ke bagian perianal perineum kemudian meletakkan telurnya ditempat itu. Karena ujung ekor cacing ini runcing mungkin menyebabkan gatal pada lubang anus sehingga penderita menggaruk dengan gerakan refleks, sehingga dapat mengkontaminasi pada alat kelaminnya. Kondisi ini mungkin hanya terjadi pada anak-anak, tetapi tidak menutup kemungkinan pada orang dewasa juga ditemukan. Bila ditemukan telur ini harus dilaporkan dalam pemeriksaan urine agar penderita mendapatkan pengobatan.

15. Telur Fasciola sp. (Egg of Fasciola sp.)
Telur Fasciola dalam urine berasal dari infeksi cacing pada organ hepar sebagai habitatnya, kemudian telurnya dilepaskan melalui urine. Bila ditemukan telur ini dalam urine maka penderita merupakan pengidap Fasciolopsis. Bentuk telur ini khas dengan bentuk bulat lonjong, pada salah satu ujung terdapat operkulum.

16. Telur Schistosoma sp. (Egg of Schistosoma sp.)
Telur Schistosoma sp. memang sering ditemukan dalam urine dan salah satu penyebab hematuria. Hal ini karena cacing dewasa ini memiliki habitat ada saluran kemih. Keadaan ini disebut Schistosomiasis.

2 komentar: