Selasa, 26 Januari 2010

Pra Analitik Laboratorium Klinik


GAMBARAN IDEAL KEGIATAN LABORATORIUM KLINIK MENURUT GOOD LABORATORY PRACTISE

A Pra Analitik
1. Menghadapi pasien/klien/customer
Dalam menghadapi pasien yang perlu diperhatikan adalah aspek dari kepuasan pelanggan, mulai dari pasien datang sampai dikeluarkannya blanko hasil pemeriksaan. Menurut Imam Hilman (2004), apabila pelanggan merasa puas maka akan dapat meningkatkan keuntungan atau profit bagi perusahaan. Demikian juga kepuasan pelanggan laboratorium akan dapat meningkatkan keuntungan bagi laboratorium yang bersangkutan.
Apabila pelanggan puas terhadap pelayanan laboratorium, maka ada 3 hal yang dapat mendongkrak profit laboratorium tersebut, yaitu :
a. Pelanggan yang puas akan selalu loyal
Apabila pelanggan loyal maka sewaktu-waktu mereka memerlukan pemeriksaan laboratorium akan datang kembali ke laboratorium tersebut, yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan bagi laboratorium tersebut.
b. Pemasaran menjadi efektif
Pelanggan yang merasa puas terhadap pelayanan laboratorium maka merupakan sarana promosi “word of mouth”( dari mulut ke mulut) yang sangat efektif. Sehingga dapat mengurangi biaya pemasaran (low cost), yang dapat meningkatkan keuntungan laboratorium.
c. Laboratorium dapat memberikan pelayanan yang berkualitas
Sampai sekarang masih dipercaya orang bahwa harga sebanding dengan kualitas, makin tinggi harganya maka dipersepsikan makin tinggi pula kualitasnya.Pelanggan yang merasa puas terhadap pelayanan maka mereka kurang memperhatikan tinggi rendahnya tarif laboratorium. Terbukti bahwa banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri meskipun tarifnya lebih mahal. Jadi untuk pelanggan tertentu kepuasan adalah segala-galanya. Apabila laboratorium dapat memberikan kepuasan pelayanan kepada pelanggannya maka laboratorium tersebut dapat memberikan tarif yang lebih tinggi dan pada akhirnya meningkatkan keuntungan bagi laboratorium.
Untuk itu dalam menghadapi pasien sebaiknya seorang petugas harus dengan ramah, senyum, mengerti dengan keluhan pasien, komunikatif dan tidak membuat pasien merasa takut tetapi memberi rasa aman serta menjelaskan maksud pengambilan spesimen.

2. Pengambilan sampel/spesimen
Hasil pemeriksaan laboratorium sangat tergantung pada persiapan yang dilakukan oleh penderita sehingga hasil yang diperiksa laboratorium mendekati nilai sesungguhnya (true value). Persiapan pasien meliputi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan, selain penyakitnya sendiri, yang meliputi : puasa, posisi pasien, persiapan tempat pengambilan sampel, variasi diurnal, aktivitas fisik dan obat-obatan.
Persiapan pasien yang harus dilakukan sebelum pengambilan spesimen, Spesimen yang berasal dari menusia dapat berupa :
1. Serum
2. Plasma
3. Darah ( Whole blood )
4. Urin
5. Tinja
6. Sputum
7. Cairan otak *
8. Bilasan Lambung *
9. Apus tenggorokan *
10. Apus rectum *
11. Sekret
- Uretra *
- Vagina *
- Teling
- Hidung
- Mata
12. Sperma
13. Pus
14. Cairan Pleura *
15. Cairan Acites *
* Pengambilan tidak di laksanakan di laboratorium
Berbagai persiapan penderita yang perlu diberitahukan secara baik dan mendetail pada penderita antara lain :
a. Persiapan Pasien Secara Umum.
Persiapan pasien untuk pengambilan spesimen pada keadaan basal/dasar :
1). Untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa selama 8-12 jam sebelum diambil darah.
Glukosa Puasa, TTG (Tes Toleransi Glukosa), Glukosa kurva harian, Asam Urat, VMA, Renin (PRA)
Puasa 10 – 12 jam
Insulin dan C. Peptidae Puasa 8 jam
Trigliserida, Gastrin, Aldosteron, Homocystine, Lp (a), PTH Intact Puasa 12 jam
Apo AB dan Apo B Dianjurkan Puasa 12 jam

2). Pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 – 09.00.

b. Menghindari obat-obatan sebelum Spesimen di ambil
1) Untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 4-24 jam sebelum pengambilan spesimen
2) Untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 48-42 jam sebelum pengambilan darah
3) Apabila pemberian pengobatan tidak memungkinkan untuk di hentikan, harus di informasikan kepada petugas laboratorium
Contoh : Sebelum pemeriksaan gula 2 jam pp pasien minum obat antidiabetes.
c. Menghindari aktifitasfisik/olahraga sebelum spesimen di ambil
Aktifitas fisik berlebihan akan menyebabkan terjadinya perubahan pada komponen darah dan spesimen lain, sehingga dapat mempengaruhi ke paramater yang akan diperiksa.
d. Memperhatikan efek postur.
Untuk menormalkan keseimbangan cairan tubuh dari pisisi berdiri ke pisisi duduk, dianjurkan pasien duduk tenang sekurang-kurangnya 15 menit sebelum di ambil darah.
e. Memperhatikan variasi diurnal ( perubahan kadar analit sepanjang hari)
Pemeriksaan yang di pengaruhi variasi diurnal perlu di perhatikan waktu pengambilan darahnya, antara lain pemeriksaan ACTH, renin dan aldosteron.

Faktor pada pasien yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
a) Diet
Makanan dan minuman dapat mempengaruhi hasil beberapa jenis pemeriksaan, baik langsung maupun tidak langsung, misalnya :
1) Pemeriksaan gula darah dari triglisarida
Pemeriksaan ini di pengaruhi secara langsung oleh makanan dan minuman, karena pengaruh yang sangat besar, maka pemeriksaan gula darah puasa, pasien perlu di puasakan 10-12 jam sebelum darah di ambil dan pada pemeriksaan trigliserida perlu di puasakan sekurang-kurangnya 12 jam
2) Pemeriksaan laju endap darah, aktifitas enzim, besi dan trace element.
Pemeriksaan ini di pengaruhi secara tidak langsung oleh makanan dan minuman karena makanan dan minuman akan mempengaruhi reaksi dalam proses pemeriksaan sehingga hasilnya menjadi tidak benar

b) Obat-obatan
Obat – obatan yang di berikan baik secara oral maupun secara lainya akan menyebabkan respon tubuh terhadap obat tersebut. Di samping itu pemberian obat secara intramuskuler akan menimbulkan jejas pada otot sehingga mengakibatkan enzim yang di kandung oleh otot mesuk ke dalam darah, yang selanjutnya akan mempengaruhi hasil pemeriksaan antara lain pemeriksaan Creatin kinase (CK) dan Lactin Dehydrogenase (LDH)
Obat-obatan yang sering di gunakan akan dapat memperngaruhi pemeriksaaan dapat di lihat pada tabel 8 :
Tabel : Daftar Obat dan Pemeriksaan Yang di Pengaruhi
JENIS OBAT PEMERIKSAAN YANG DI PENGARUHI
Diuretik - Hampir seluruh hasil pemeriksaan substrat dan enzim dalam darah akan meningkat karena terjadi hemokonsentrasi, terutama pemeriksaan Hb, Hitungan sel darah, Hematokrit, Elektrolit
- Pada urin akan terjadi penganceran
Cafein Sama dengan diuretic
Thiazid - Glukosa darah
- Tes toleransi darah
- Ureum darah
Pil KB (Hormon) - LED
- Kadar hormone
Morfin Enzim hati (GOT, GPT)
Phenobarbital GGT
Asetosal Uji hemostasis
Vitamin C Reduksi urin
Obat antidiabetika - Glukosa darah
- Glukosa urin
Kartikosteroid - Hitung eosinofil
- Tes toleransi glukosa

c) Merokok
Merokok menyebabkan terjadinya perubahan cepat dan lambat pada kadar zat tertentu yang di periksa. Perubahan cepat terjadi dalam 1 jam hanya dengan merokok 1-5 batang dan terlihat akibatnya berupa peningkatan kadar asam lemak, epinefrin, gliserol bebas, aldosteron dan kortisol.
Perubahan lambat terjadi pada hitung leukosit, lipoprotein, aktivitas beberapa enzim, hormone, vitamin, petanda tumor dan logam berat.
d) Alkohol
Konsumsi alkohol juga menyebabkan perubahan cepat dan lambat beberapa kadar analit. Perubahan cepat terjadi dalam waktu 2-4 jam setelah konsumsi alkohol dan terlihat akibatnya berupa peningkatan pada kadar glukosa, laktat, asam urat, dan terjadi asidosis metabolic. Perubahan lambat berupa pengikatan aktifitas Aglutamyl Transferase, AST, ALT, trigliserida, kortisol dan MCV (Mean Corpuscular Volume) sel darah merah.
e) Aktifitas fisik
Aktifitas fisik dapat menyebabkan terjadinya shift volume antara kompertemen di dalam pembuluh darah dan interstitial, kehilangan cairan karena ke keringan dan perubahan kadar hormone. Akibatnya akan terjadi perbedaan yang besar antara kadar gula darah di arteri dan di vena serta terjadi perubahan konsentrasi gas darah, kadar asam urat, kreativitas, aktivitas CK, AST, LTD, LED, Hb, hitung sel darah dan produksi urin.
f) Ketinggian/altitude
Beberapa parameter pemeriksaaan menunjukkan perubahan yang nyata sesuian dengan tinggi rendahnya deretan terhadap permukaan laut.Parameter tersebut adalah CRP, β2-globulin, hematokrit, hemoglobin, dan asam urat. Adaptasi terhadap perubahan ketinggian daratan memerlukan waktu harian hingga berminggu-minggu
g) Demam
Pada waktu demam akan terjadi :
1) Peningkatan gula darah pada tahap permulaan dengan akibat akan terjadi peningkatan kadar insulin yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar gula daarah pada tahap lebih lanjut. Terjadi penurunan kolesterol dan trigliserida pada awal demam
2) karena terjadi peningkatan metabolisme lemak,dan terjadi peningkatan asam lemak bebas dan benda – benda katon karena penggunaan lemak yang meningkat pada demam yang sudah lama.
3) Lemak mudah menemukan parasit malaria dalam darah
4) Lebih mudah mendapatkan biakan positif
5) Terjadi reaksi anamnestik yang akan menyebabkan kenaikan titer Widal
h) Trauma
Trauma dengan luka pendarahan akan menyebabkan antara lain terjadinya penurunan substrat maupun aktifitas enzim yang akan di ukur termasuk kadar Hb, hematokrit dan produksi urin. Hal ini di sebabkan karena terjadi pemindahan cairan tubuh ke dalam pembuluh darah sehingga mengakibatkan terjadi penganceran darah. Pada tingkat lanjut akan terjadi peningkatan kadar ureum dan kreatinin serta enzim-enzim yang berasal dari otot.
i) Variasi circadian rythme
Pada tubuh manusia terjadi perbedaan kadar zat-zat tertentu dalam tubuh dari waktu ke waktu yang di sebut dengan variasi circadian rhytme. Perubahan kadar zat yang di pengaruhi oleh waktu dapat bersifat linier (garis lurus) seperti umur, dan dapat bersifat siklus seperti siklis harian (variasi diurnal), silus bulanan (menstruasi) dan musiman.
Variasi diurnal yang terjadi antara lain :
1) Besi serum, kadar besi serum yang di ambil pada sore kari akan lebih tinggi dari pada pagi hari
2) Glukosa, kadar insulin akan mencapai puncaknya pada pagi hari, sehingga apa bila tes toleransi glukosa di lakukan pada siang hari
3) Enzim , aktifitas enzim yang di ukur akan berfluktuasi di sebabkan oleh kadar hormone yang berbeda dari wakru ke waktu
4) Eosinofil,jumlah eosinofil menunjuknan fariasi diurnal, jumlahnya akan lebih rendah pada malam sampai pagi hari di bandingkan pada siang hari.
5) Kortisol, kadarnya lebih tinggi pada pagi hari di bandingkan pada malam hari
6) Kalium, kalium darah pada pagi hari lebih tinggi dari pada siang hari
Selain yang sifatnya harian dapat terjadi variasi fluktuasi kadar zat dalam tubuh yang siftnya bulanan.
Variasi siklus bulanan umumnya pada wanita karena terjadi menstruasi dan ovulasi setiap bulan. Pada masa sesudah menstruasi akan terjadi penurunan kadar besi.protein dan fosfat dalam darah di samping perubahan kadar hormone seks. Demikian pila pada saat ovulusi terjadi peningkatan kadar aldosteron dan rennin serta penurunan kadar kolestor darah
j) Umur
Umur berpengaruh terhadap kadar dan aktifitas zat dalam darah. Hitung eritrosit dan kadar Hb jauh lebih tinggi pada neonatus dari pada dewasa. Fosfatase alkali, kolestrol total dan kolestor-LDL akan berubah dengan pola tertentu sesuai dengan pertambahan umur.
k) Ras
Jumlah leokosit orang kulit hitam Amerika lebih rendah dari pada orang kulit putih. Demikian juga dengan aktifitas CK keadaan serupa di jumpai pada ras bangsa lain seperti perbedaan aktifitas amylase, kadar vitamin B12 dan lipoprotein
l) Jenis kelamin (gender)
Berbagai kadar dan aktifitas di pengaruhi oleh jenis kelamin. Kadar besi serum dan kadar Hb berbeda pada wannita dan pria dewasa. Perbedaan ini akan menjadi tidak bermakna lagi setelah umur lebih dari 65 tahun. Perbedaan akibat gender lainya adalah aktivitas CK dan kreatinin.
Perbedaan ini lebih di sebabkan karena massa otot pria relative lebih besar daripada wanita. Sebaliknya kadar hormone seks wanita, prolaktin dan kolesterol-HDL akan di jumpai lebih tinggi pada wanita dari pada pria.
m) Kehamilan
Bila pemeriksaan di lakukan pada pasien hamil, sewaktu interprestasi hasil perlu mempertimbangkan masa kehamilan wanita tersebut.
Pada kehamilan akan terjadi hemodilusi (pengenceran darah) yang di mulai pada minggu ke-10 kehamilan dan terus menungkat sampai minggu ke-35 kehamilan.
Volume urin akan meningkat 25% pada trimester ke-3
Selama kehamilan akan terjadi perubahan kadar hormone kelenjar tiroid,elektroit,besi, dan ferritin, protein total dan albumin, lemak, aktivitas fosfatase alkalin dan factor koagulasi serta laju endap darah.
Penyebab perubahan tersebut dapat di sebabkan karena induksi oleh kehamilan, peningkatan protein transport, hemodilusi,volume tubuh yang mengkat,defisiensi relative karena pengkatan kebutuhan atau pengikatan protein fase akut.

a. Peralatan.
Secara umum peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat :
1). Bersih dan kering.
2). Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.
3). Terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat pada spesimen.
4). Mudah dicuci dari bekas spesimen sebelumnya.
5). Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan biakan harus menggunakan peralatan yang steril.
b. Wadah
Wadah spesimen harus memenuhi syarat :
1). Terbuat dari gelas atau plastik. Untuk spesimen darah harus terbuat dari gelas.
2). Tidak bocor atau merembes.
3). Harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir.
4). Besar wadah disesuaikan dengan volume spesimen
5). Bersih dan kering
6). Tidak mempengaruhi sifat zat-zat dalam spesimen
7). Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.
8). Untuk pemeriksaan zat dalam spesimen yang mudah rusak atau terurai karena pengaruh sinar matahari, maka digunakan botol coklat.
9). Untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan kuman wadah harus steril.
c. Pengawet
Diberikan agar sampel yang akan diperiksa dapat dipertahankan kondisi dan jumlahnya dalam waktu tertentu. Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah.
d. Waktu
Pada umumnya pengambilan spesimen dilakukan pada pagi hari, terutama untuk pemeriksaan Kimia klinik, Hematologi dan Imunologi karena umumnya nilai normal ditetapkan pada keadaan basal.
e. Lokasi
Sebelum mengambil spesimen, harus ditetapkan terlebih dahulu lokasi pengambilan yang tepat sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta.Spesimen untuk pemeriksaan menggunakan darah vena umumnya diambil dari vena cubiti daerah siku.Spesimen darah arteri umumnya diambil dari arteri radialis di pergelangan tangan atau arteri femoralis di daerah lipat paha. Spesimen darah kapiler diambil dari ujung jari tengah tangan atau jari manis tangan bagian tepi atau pada derah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki atau cuping telingan pada bayi. Tempat yang dipilih tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti cyanosis atau pucat, bekas luka dan radang.
f. Volume
Volume spesimen yang diambil harus mencukupi kebutuhan pemeriksaan laboratorium yang diminta atau dapat mewakili objek yang diperiksa.

Tabel Volume Spesimen.
No Jenis Pemeriksaan Banyaknya Sampel Yang diambil Wadah / Tempat Penampungan
1. Darah Rutin, LDT, Malaria 2 ml Botol EDTA 1 tetes Steril
2. Kimia Darah, Widal,
Hbs-Ag, CRP, ASTO 3 ml Tabung Reaksi Steril ( Dalam Spuit Sementara )
3. T3,T4,TsHs,FT4,CAE 5 ml
( Jangan Sampai Ada Gelembung Udara ) Tabung Reaksi Steril
4. Urine Rutin, Lengkap 3 – 8 ml Botol Steril
5 Feaces Rutin, Lengkap Sebesar biji jagung/ 0,5 ml Botol Steril
6. Sputum 3 – 5 ml Pot Steril
7. Sekret Vagina, Uretra 2 Sediaan kering,
1 Sediaan basah Kaca Objektif Steril
8. Sekret Mata 1 Sediaan Kering Kaca Objektif Steril
9. Analisa Sperma Sebanyak Volume Yang dikeluarkan Botol steril
10. Analisa Cairan Pleura, Acites 3 – 5 ml Spuit Steril
11. Analisa Cairan Otak 1 – 3 ml
( Dalam waktu maksimal 20 menit setelah dilakukan fungsi lumbal sampel harus diperiksa di laboratorium ) Botol Steril
g. Teknik
Pengambilan spesimen harus dilaksanakan dengan cara yang benar, agar spesimen tersebut mewakili keadaan yang sebenarnya.
1). Darah vena
- Posisi lengan pasien harus lurus dan dipilih lengan yang banyak melakukan aktivitas.
- Pasien diminta untuk mengepalkan tangan.
- Dipasang torniquet ± 10 cm di atas lipat siku.
- Pilih bagian vena median cubital atau chepalic.
- Dibersihkan kulit pada bagian yang akan diambil darahnya dengan alkohol 70% dan biarkan kering untuk mencegah terjadinya hemolisis dan rasa terbakar. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.
- Ditusuk bagian vena tadi dengan lubang jarum menghadap ke atas dengan kemiringan 150, bila menggunakan tabung vakum tekan tabung vakum hingga vakumnya bekerja dan darah terhisap ke dalam tabung. Bila jarum berhasil masuk vena, akan terlihat darah masuk dalam semprit, bila darah tidak keluar ganti posisi penusukan (bila terlalu dalam tarik sedikit dan sebaliknya), usahakan darah dapat keluar dalam satu kali tusukan.
- Setelah volume darah dianggap cukup, torniquet dilepas dan pasien diminta membuka kepalan tangannya. Volume darah yang diambil ± 3 kali jumlah serum atau plasma yang diperlukan untuk pemeriksaan.
- Dilepaskan/ tarik jarum dan segera letakkan kapas alkohol 70% di atas bekas suntikan untuk menekan bagian tersebut selama ± 2 menit. Setelah darah berhenti, plester bagian ini selama ± 15 menit. Jangan menarik jarum sebelum torniquet dibuka.
2). Darah kapiler
- Bagian yang akan ditusuk dibersihkan dengan alkohol 70% dan dibiarkan kering.
- Dipegang bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
- Dengan lanset steril ditusuk dengan cepat tegak lurus (jangan sejajar) pada garis sidik jari.
- Pada daun telinga ditusuk pada bagian pinggirnya, jangan sisinya.
- Tetesan darah yang pertama keluar disapu dengan kapas kering, tetesan darah yang selanjutnya dapat dipakai untuk pemeriksaan.
3). Urine
a) Urin Wanita
- Penderita harus mencuci tangan dengan sabun dan dikeringkan dengan handuk.
- Pakaian dalam ditanggalkan dan labia dilebarkan dengan satu tangan.
- Bagian labia dan vulva dibersihkan dengan kasa steril arah depan ke belakang.
- Bilas dengan air hangat dan keringkan dengan kasa steril yang lain.
- Selama proses ini berlangsung, labia harus tetap terbuka lebar dan jari tangan jangan menyentuh daerah yang sudah steril.
- Urin dikeluarkan, aliran urin yang pertama keluar dibuang, aliran urin selanjutnya ditampung dalam wadah yang sudah disediakan. Pengambilan urin selesai sebelum aliran urin habis. Wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.
b) Urin Laki-laki
- Penderita harus mencuci tangan dengan sabun.
- Jika tidak disunat tarik kulit preputium ke belakang, keluarkan urin, aliran yang pertama keluar dibuang, aliran selanjutnya ditampung dalam wadah yang tersedia. Hindari urin mengenai lapisan tepi wadah. Pengumpulan urin selesai sebelum aliran urin habis.
- Wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.
c) Urin Kateter
- Pada bagian selang kateter yang terbuat dari karet didesinfeksi dengan alkohol 70%.
- Urin diaspirasi menggunakan semprit kira-kira 10 ml.
- Dimasukkan dalam wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.
d) Urin Aspirasi Suprapubik
Urin suprapubik harus dilakukan pada kandung kemih yang penuh, dengan cara:
- Kulit di daerah suprapubik didesinfeksi dengan povidone Iodine 10%, kemudian dibersihkan sisa povidone Iodine dengan kapas alkohol 70%.
- Urin diaspirasi tepat dititik suprapubik menggunakan semprit sebanyak 20 ml.
- Dimasukkan dalam wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.
4). Tinja
Tinja untuk pemeriksaan sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan, sampel tinja dapat diambil dari rektum dengan jari bersarung tangan.
5). Sputum
Sebelumnya pasien diberi penjelasan mengenai pemeriksaan dan tindakan yang akan dilakukan, serta perbedaan sputum dengan ludah. Bila pasien kesulitan mengeluarkan sputum, pada malam hari sebelumnya diminta minum teh manis atau obat gliseril guayakolat 200 mg. Kemudian diambil sputumnya dengan cara:
- Pasien diminta untuk berkumur dengan air, bila memakai gigi palsu sebaiknya dilepas.
- Pasien berdiri / duduk tegak.
- Pasein diminta untuk menarik napas dalam 2-3 kali kemudian keluarkan napas bersamaan dengan batuk yang kuat dan berulang kali sampai sputum keluar.
- Sputum yang dikeluarkan langsung ditampung dalam wadah dengan cara mendekatkan wadah ke mulut.
- Diamati keadaan sputum, sputum yang berkualitas baik tampak kental purulen dengan volume 2 ml.

3. Penanganan sampel/spesimen
Laboratorium harus mempertimbangkan bagaimana cara menangani contoh uji/sampel melalui berbagai tahapan proses, mulai dari pengiriman ke laboratorium, penerimaannya di laboratorium, penanganan pada saat pengujian, perlindungan pada saat penyimpanan, retensi dan pembuangannya. Laboratorium harus memiliki prosedur dan fasilitas bagi pengelolaan sampel uji pada setiap tahapan yang tercantum guna menjamin tidak adanya kerusakan pada sampel uji.Laboratorium harus memiliki suatu sistem dimana suatu sampel uji diberikan pengenal khusus yang berlaku selama sampel tersebut ada.Sistem tersebut akan menjamin bahwa sampel tersebut tidak tertukar baik secara fisik atau dalam rekamannya. Pada saat sampel uji diterima di laboratorium, kondisinya harus direkam, selain tanggal dan waktu penerimaannya. Untuk laboratorium yang menerima sampel uji dalam beberapa hari, kondisi sebenarnya dari sampel tersebut perlu direkam hanya bila terdapat masalah dengan kondisi yang ada. Bila sampel uji memerlukan kondisi penyimpanan tertentu, maka sampel tersebut harus dimonitor dengan benar, dijaga dan direkam. Perlu adanya prosedur monitoring dan perekaman untuk kondisi tersebut. Jika sampel uji perlu disimpan dengan aman, maka laboratorium harus menyediakan prosedurnya.
Dalam penanganan spesimen perlu diperhatikan berbagai hal sehingga bahan pemeriksaan memenuhi syarat untuk dapat diperiksa, antara lain:
- Antara permintaan pemeriksaan dan sampel tidak sesuai, harus diteliti kembali.
- Antikoagulan yang dipakai tidak sesuai, atau jumlahnya sedikit/terlalu banyak.
- Adanya hemolisis pada saat pengambilan/pemisahan serum.
- Spesimen keruh/lipemik, perlu ambil/pemisahan ulang.
- Pemisahan serum yang tidak sempurna, perlu memperhatikan sentrifugasi.
- Volume darah/sampel yang sedikit/tidak memadai, sebaiknya jumlahnya cukup.
- Seringkali spesimen bukan merupakan daerah yang “dicurigai”, misalnya pada pemeriksaan faeces.
- Tempat pengiriman sampel tidak memenuhi syarat (seadanya).
- Waktu pengiriman sampel.
- Penyimpanan bahan pemeriksaan menyangkut suhu simpan.
- Usahakan menggunakan bahan/spesimen yang segar.
Spesimen yang telah diambil dari pasien hendaklah dilakukan langkah sebagai berikut :
a. Pemberian identitas
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen merupakan hal yang penting baik pada saat pengisian surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan, pendaftaran, pengisian label wadah spesimen. Pada surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya memuat secara lengkap :
1). Tanggal permintaan
2). Tanggal dan jam pengambilan spesimen
3). Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat/ruang) termasuk rekam medik.
4). Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)
5). Nomor laboratorium
6). Diagnosis.keterangan klinik.
7). Obat-obatan yang telah diberikan dan lama pemberian.
8). Pemeriksaan laboratorium yang diminta.
9). Jenis spesimen
10). Lokasi pengambilan spesimen
11). Volume spesimen
12). Pengawet yang digunakan
13). Nama pengambil spesimen.
Label wadah spesimen yang akan dikirim atau diambil ke laboratorium harus memuat :
1). Tanggal pengambilan spesimen
2). Nama dan nomor pasien
3). Jenis spesimen
b. Pengolahan
Spesimen yang telah diambil dilakukan pengolahan untuk menghindari kerusakan pada spesimen tersebut.Pengolahan spesimen berbeda-beda tergantung dari jenis spesimennya masing-masing.
1). Serum
Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 2-30 menit, lalu di sentrifuge 3000 rpm selama 5-15 menit. Pemisahan serum dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan darah. Serum yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh.
2). Plasma
Kocok darah EDTA atau citrat dengan segera secara perlahan-lahan.
Pemisahan plasma dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan spesimen. Plasma yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh.
3). Whole blood
Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang telah berisi antikoagulan yang sesuai, lalu dihomogenisasi dengan cara goyang perlahan tabung.
4). Urine
Urine yang didapatkan tidak perlu ada perlakuan secara khusus, kecuali pemeriksaan harus segera dilakukan sebelum 1 jam, sedangkan untuk pemeriksaan sedimen harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu dengan cara dimasukkan tabung dan sentrifuge selama 5 menit 1500-2000 rpm, supernatan dibuang dan diambil sedimennya. Suspensi sedimen ini dicampur dengan cat Sternheirmer-Malbin Stain’s untuk menonjolkan unsur sedimen dan memperjelas strukturnya.
5). Sputum
Masukkan sputum ke dalam tabung steril yang berisi NaOH 4% sama banyak. Kocok dengan baik. Inkubasi pada suhu kamar 25-30OC selama 15-20 menit dengan pengocokan teratur tiap 5 menit. Sentrifuge dengan kecepatan tinggi selama 8-10 menit. Endapan diambil dan supernatan dibuang pada air lysol.

4. Penggunaan antikoagulan
Anticoagulant adalah bahan yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Agar darah yang akan diperiksa jangan sampai membeku dapat dipakai bermacam-macam anticoagulant. Tidak semua macam anticoagulant dapat dipakai karena ada yang terlalu banyak berpengaruh terhadap bentuk eritrosit atau leukosit yang akan diperiksa morfologinya. Anticoagulants yang sering digunakan dalam pemeriksaan hematologi adalah :
a. EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid)
Yang dipakai disini adalah garam kalium dan natriumnya, tetapi yang sering digunakan adalah garam kaliumnya (dipotassium EDTA) karena daya larutnya dalam air kira-kira 15 kali lebih besar daripada garam natriumnya.Cara kerjanya dengan garam kaliumnya (K2.EDTA) yaitu dapat mengubah ion Calcium dari darah menjadi bentuk yang bukan ion membentuk senyawa kompleks yang larut berdasarkan pembentukan ikatan Chelate senyawa.
Keuntungan :
- Tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuknya erithrosit dan leukosit.
- Mencegah thrombosit menggumpal
- Dapat digunakan berbagai macam pemeriksaan hematologi.
Kerugian :
Lambat larut karena sering digunakan dalam bentuk kering sehingga harus menggoncang wadah yang berisi darah EDTA selama 1-2 menit.
Cara pembuatan :
1. Ambil botol yang bersih dan kering
2. Pipet EDTA 10% sebanyak 0,020 ml dengan pipet sahli
3. Masukkan kedalam botol dan keringkan.
4. Dengan jumlah EDTA 10% sebanyak 0,02 ml ini dapat mencegah membekunya darah sebanyak 2 ml atau 1 mg EDTA dalam 1 ml.
b. Trisodium Citrate
Antikoagulant ini sering digunakan dalam bentuk larutan 3,8%. Cara kerjanya sebagai bahan yang isotonic dengan darah.Sering digunakan beberapa macam percobaan hemorragik dan laju endapan darah metode Westergren. Untuk LED digunakan perbandingan 1 : 4 yaitu 1 bagian natrium citrat dan 4 bagian darah, sedang untuk percobaan hemorragik dengan perbandingan 1 : 9.
Keuntungan :
Karena tidak toksis maka sering digunakan dalam dinas pemindahan darah (Unit transfusi darah).
Kerugian :
Pemakaiannya terbatas dalam pemeriksaan hematologi.
c. Heparin
Cara kerjanya berdaya seperti anti tombin dan antitromboplastin. Heparin merupakan anticoagulant yang normal terdapat dalam tubuh tetapi dalam laboratorium jarang dipakai pada pemeriksaan hematologi. Untuk tiap 0,1-0,2 mg heparin dapat mencegah pembekuan 1 ml darah. Sering digunakan dalam penentuan PCV cara mikrokapiler yang bagian dalamnya dilapisi dengan heparin.
Keuntungan :
Hanya digunakan terutama dalam transfusi darah yang menggunakan banyak darah dan extracorporal circulation.
Kerugian :
- Tidak boleh digunakan dalam pemeriksaan hapusan darah karena dapat terjadinya dasar biru kehitam-hitaman pada preparat bila dicat dengan wright stain.
- Harganya mahal.
d. Double Oxalat
Nama lainnya adalah anticoagulant dari Heller dan Paul atau Balanced Oxalate Mixture.Dipakai dalam bentuk kering agar tidak mengencerkan darah yang diperiksa. Kalium oxalat menyebabkan erythrosit mengkerut sedangkan amonium oxalat menyebabkan erytrosit mengembang, campuran keduanya dengan perbandingan 3 : 2 maka terjadi keseimbangan tekanan osmotik eryhtrosit. Setiap 2 mg antikoagulant ini dapat mencegah pembekuan 1 ml darah.
Keuntungan :
Dapat digunakan dalam berbagai pemeriksaan hematologi
Kerugian :
- Tidak dapat digunakan dalam pemeriksaan hapusan darah karena bahan ini toksis sehingga dapat menyebabkan perubahan-perubahan morfologi sel leukosit dan eryhtrosit.
- Tidak boleh digunakan juga pada pemeriksaan osmotik fargility.

5. Penilaian Spesimen Yang Tidak Memenuhi Syarat
a. Spesimen diterima oleh petugas loket dan sampling.
b. Penilaian spesimen harus dilakukan sesuai dengan jenis pemeriksaan.
c. Penilaian spesimen harus segera dilakukan setelah menerima spesimen.
d. Petugas laboratorium wajib menolak dan mengembalikan spesimen yang tidak memenuhi syarat pemeriksaan.
e. Spesimen yang ditolak diberitahukan lewat via aiphone ruangan atau yang mengantar spesimen.
f. Spesimen untuk pemeriksaan PA yang diantar ke laboratorium berupa jaringan biopsi dan operasi yang telah lebih 1 hari, tidak menggunakan pengawet, ditempatkan suhu ruang ditolak untuk pemeriksaan rujukan.
Catatan :
1. Spesimen yang dinilai apabila spesimen tersebut diambil oleh petugas selain petugas laboratorium dan juga spesimen yang berasal dari rujukan laboratorium lain.
2. Spesimen yang dirujuk ke laboratorium lain harus memenuhi persyaratan sebagaimana persyaratan laboratorium rujukan tersebut.

6. Pengiriman spesimen
Spesimen yang akan dikirim ke laboratorium lain, sebaiknya dikirim dalam bentuk yang reatif stabil. Untuk itu perlu diperhatikan persyaratan pengiriman spesimen antara lain :
a. Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas spesimen.
b. Tidak terkena sinar matahari langsung
c. Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja laboratorium termasuk pemberian label yang bertuliskan “Bahan Pemeriksaan Infeksius” atau “Bahan Pemeriksaan Berbahaya”.
d. Suhu pengiriman harus memenuhi syarat.

7. Pengolahan dan Penyimpanan spesimen
Spesimen yang sudah diambil harus segera dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, karena stabilitas spesimen dapat berubah. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas spesimen antara lain :
a. Terjadi kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia.
b. Terjadi metabolisme oleh sel-sel hidup pada spesimen.
c. Terjadi penguapan.
d. Pengaruh suhu.
e. Terkena paparan sinar matahari.
Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksa dapat disimpan dengan memperhatikan jenis pemeriksaan yang akan diperiksa. Persyaratan penyimpanan beberapa spesimen untuk beberapa pemeriksaan laboratorium harus memperhatikan jenis spesimen, antikoagulan/pengawet dan wadah serta stabilitasnya. Beberapa cara penyimpanan spesimen :
a. Disimpan pada suhu kamar
b. Disimpan dalam lemari es suhu 2-8OC
c. Dibekukan suhu -20OC, -70OC atau -120OC
d. Dapat diberikan bahan pengawet
e. Penyimpanan spesimen darah sebaiknya dalam bentuk serum atau lisat.
(Ahmadlabrsas)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar