Selasa, 26 Januari 2010

Dasar-Dasar Pemantapan Mutu Labkes/klinik


Saat ini peranan laboratorium kesehatan/klinik untuk menunjang diagnostik suatu penyakit dan kesehatan publik sangat dirasakan manfaatnya, bahkan terjadi pergeseran nilai menjadi suatu kebutuhan mutlak bagi klinisi. Tidak akan lengkap suatu diagnosis penyakit tanpa hadirnya hasil laboratorium. Bahkan peranannya mulai bergeser dari penunjang diagnosis menjadi penentu utama diagnosis (main diagnosis).
Seorang dokter menghadapi pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD), terlihat seakan bodoh apabila melihat pasien yang diperiksa fisik, anamnesis dan melakukan diagnosis namun tidak bisa menentukan diagnosis bahkan bingung dihadapkan 2 dilematis apakah penyakit A atau B bahkan atau C. Disinilah letak kehebatan sebuah laboratorium, yang lebih cerdas dan smart dalam menentukan diagnosis. Tapi mengapa masih banyak dokter yang meremehkan hasil laboratorium, hasil tidak sesuai dengan diagnosis dia atau hanya menutupi mungkin kebodohannya saja, apalagi dokter umum yang sok tahu dan sok hebat. Kita dapat saja berdebat bila memang hasil lab kita memang tepat dan teliti.
Berdasarkan ulasan diatas yang perlu saya tekanan dan perlu kita renungkan adalah tingkat kepercayaan hasil laboratorium. Untuk meningkatkannya perlu dikoreksi dulu laboratorium sendiri dan jangan menyalahkan dahulu pihak dokter atau merasa hasil yang dikeluarkan telah valid, “Ah benar aja sudah hasilnya” itulah sifat ego analis yang merasa telah berpengalaman puluhan tahun. Analis A berkata : “aku sudah 15 tahun bekerja, kenapa dikatakan hasil lab koq dokter itu tidak percaya. Atau dokternya yang tidak tahu tentang lab!”
Belum lagi bentrok dengan lab lain. “Ah lab kami lebih terpercaya, disana tidak tepat, alatnya manual, analisnya cuma orang biasa, tidak pakai AC, kami pakai alat harga 500 juta”. Yang perlu saya tekankan disini adalah ketepatan dan ketelitian hasil lab bersumber pada seberapa serius lab tersebut dikelola dan diusahakan agar selalu tepat dan teliti memenuhi Good Laboratory Practise. Berikut ulasan yang akan saya uraikan dalam penanganan sistem laboratorium fokus pada lab klinik mengkoreksi keburukan/kejelekan diri sendiri sebelum dikatakan lab kita handal, tepat dan teliti.
Pra analitik :
1. Apakah spesimen yang diperoleh sudah dinilai layak atau tidaknya? (sudah punya belum prosedur menilai spesimen yang datang ke lab untuk layak digunakan sebagai spesimen representatif?) Disinilah kesalahan fatal hasil lab.
2. Sudahkah mencatat data diri pasien dan ruangan, pelabelan, register harian? Buat Protap : Catatan data dan ruangan pasien. Bila sudah ada sistem barcode paling baik seperti contohnya pada lab : Pramita dan Prodia.
3. Apakah jenis spesimen (darah, serum, plasma dan urine) sudah sesuai teruntuk persyaratan yang diminta tiap parameter? (Buat tabel yang memperbolehkan/tidak suatu jenis spesimen digunakan utk parameter tertentu, misal AST pakai serum, tidak boleh pakai plasma citrate).
4. Berapa lama spesimen telah diambil dan berapa lama spesimen didiamkan sebelum diperiksa? (buat protap : catatan jam pengambilan, stabilitas spesimen, batas maksimum yang boleh ditunda pada suhu dan kondisi cahaya) Disinilah mulai ketidaktepatan pengukuran.
5. Apakah suhu ruangan sudah tepat dengan permintaan alat/instrumen? (gunakan AC, kipas angin, termometer, exhaust fan danlain-lain). Buat protapnya, bila sudah ada perbaiki/perbaharui bila kurang tepat.
6. Apakah alat sudah startup dan warming up dan posisi stand by untuk siap digunakan? (janganlah menghidupkan alat saat spesimen sudah diambil, tapi sebaliknya karena tidak akan tepat pengukuran hasil)
7. Apakah reagensia dalam kondisi baik? (Protap : penyimpanan, suhu, lama disimpan, tanggal expired, stabilitas, sebaiknya bila dalam jumlah banyak (liter) dipisahkan dalam beberapa botol kecil supaya tetap stabil)
8. Sudahkah alat anda dilakukan peremajaan? (Perlu peremajaan alat supaya tidak tertinggal baik teknik, prosedur maupun metode pemeriksaan)

Analitik :
1. Apakah Fotometer, Hematology Analyzer, urinalisa analyzer dan lainnya sudah di kalibrasi? (Kalibrasi secara berkala, lakukan pemeriksaan bahan kontrol ketelitian dan ketepatan, atau bila terlalu mahal cost cukup ketelitian aja seminggu sekali).
2. Apakah anda yakin dengan volume mikropipet yang anda gunakan tepat? (Hampir 95% lab tidak pernah mengkalibrasi mikropipetnya, faktor kesalahan yang umum terjadi, Tiap tangan yang menggunakan mikropipet juga berbeda, jadi dalam bekerja melakukan QC dan seri pemeriksaan pasien hari ini sebaiknya analis yang bersangkutan aja secara khusus jangan dipindahkan ke orang lain, kecuali esok harinya bisa diganti).
3. Sudahkah alat anda (terutama RS) ditera oleh BPFK dan mendapat sertifikat layak pakai? (Saat ini untuk maju akreditasi lab, setidaknya peralatan telah dikoreksi oleh lembaga BPFK, untuk regional Kalsel-teng-tim perwakilannya di BPFK Surabaya berhubung BPFK kalsel baru didirikan).
4. Apakah larutan sampel sudah dihomogenkan? (Buat protapnya, teknik mencampur dengan goyangan tangan, parafilm, sediakan alat vortex mixer, nutator, rotator, sentrifuge)
5. Apakah tiap personal sudah yakin keandalan QCnya? (Lakukan pengujian untuk tiap analis yang baru bekerja (karyawan baru) dengan QC untuk menilai kinerjanya)

Pasca Analitik :
1. Apakah hasil laboratorium sudah dikoreksi ? (Buat Protap : mengatasi hasil yang abnormal, rendah, tinggi, cara konsultasi berjenjang dengan analis senior dan analis ahli atau DSPK).
2. Sudahkah dilakukan pengulangan hasil bila hasil kurang yakin tepat? (lakukan analisis, pengulangan, pengenceran, spesimen baru, petugas lain sebagai koreksi tanding bila hasil meragukan)
3. Sudahkah hasil di validasi? Siapakah yang memvalidasi hasil laboratorium? Apakah SMAK? D3 Analis? D4 Analis/S1? DSPK/DSPA/DSMK? (buat Protap : Validasi hasil laboratorium, yang memberikan paraf/tanda tangan pada hasil lab) Hasil Lab wajib di validasi oleh pejabat yang berwenang. Menurut peraturan Jabfung MenPAN tahun 2008 tentang Pranata Labkes maka Pranata labkes ahli yang berwenang terutama pada suatu lembaga RS dan BLK. Untuk Puskesmas cukup D3 Analis kesehatan bila lebih 2 orang petugas (itupun bila D3 analisnya lebih cerdas dari yang seorang) atau SMAK bila sendiri saja.
4. Sudahkan diregister hasil lab? (lakukan register pada buku catatan, alat (otomatis), petugas pengolahan data di MS excel pada Komputer, arsipkan copynya, tata cara pemusnahan arsip, tata cara Rekam medik).
5. Bagaimana kesehatan dan keselamatan kerja di lab? (Perlu adanya sistem K3 terpadu di lab, ada APAR, P3K, Safety Cabinet, Air mengalir, Sampah medis, WC dan Septik tank resapan, Ruang makan lab dan APD lengkap).
6. Apakah Sudah memiliki tenaga administrasi khusus? (perlu administrasi register pasien masuk, register pasca analitik hasil lab dan CS).

Demikian uraian singkat ini, sebenarnya masih banyak lagi yang perlu dibahas, tapi yang perlu dibahas hanya pokok-pokoknya saja. Dengan mengkoreksi tahapan-tahapan tadi maka akan didapatkan hasil lab yang teliti dan tepat. Jangan merasa lab nya paling hebat bila QC dan QA nya buruk, terlebih bila mereka sebagai RS atau BLK merasa lebih tinggi jenjangnya dari lab lain. Yang paling utama ditanya oleh orang bagaimana PME dan PMI nya? Bukan kecanggihan alatnya. Sehebat-hebatnya alat canggih pada proses pembuatannya mengacu pada manual, makanya manual pada umumnya masih merupakan pilihan untuk koreksi alat canggih. Yang perlu digarisbawahi dalam hal perbedaan metode yang digunakan. Semakin tepat hasil maka semakin baik metode tersebut. Namun perlu dilihat juga faktor spesifisitas dan sensitifitasnya. Semakin sensitifitas tinggi maka akan berkurang spesifisitasnya, begitu juga sebaiknya. Namun semua dapat dihindari dengan ada nilai toleransi.
Demikian tips kali ini untuk teman-teman lab di kalsel-teng-tim. Salam Analis. Wassalam.
Ahmad Lab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar